Oleh: Jaka Samudra | 6 November 2008

Program Televisi Bernilai Etika di Ambang Kepunahan

Hilangnya nilai moral dan etika dalam kehidupan sekarang ini merupakan sorotan tajam penyebab hancurnya kredibilitas bangsa. Nilai-nilai moralitas dan etika banyak digembar-gemburkan menjadi landasan dalam kehidupan manusia. Pada kenyataannya, nilai tersebut hanya dijadikan hapalan belaka tanpa diterapkan untuk dijadikan kebiasaan di segala segi kehidupan. Nilai-nilai tersebut sudah tidak lagi menjadi tolak ukur dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kemaslahatan orang banyak. Permasalahan moral dan etika merupakan kendala yang sangat besar dan tentunya harus segera diselesaikan. Krisis global yang terjadi di bangsa ini akhirnya berpangkal pada krisis moralitas dan etika.

Permasalahan moral dan etika tidak terlepas dari pengaruh perubahan budaya yang terjadi di masyarakat sebagai pembentukan etika perorangan. Moral dan etika terbentuk dari tuntutan yang bersumber pada budaya dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya untuk dijadikan pedoman dalam membangun suatu peradaban komunitasnya. Etika mengarahkan diri untuk memberikan penilaian yang baik dan buruk dalam kehidupan sehari-hari. Nilai ini mempunyai kaitan yang erat dengan proses hubungan komunikasi yang dilakukan manusia. Nilai etika sebagian besar bersumber dari keyakinan rohani seseorang, keluarga, lingkungan yang selalu memberikan interaksi langsung dengan seseorang. Proses interaksi tersebut tentunya yang melahirkan nilai etika, dan moral yang tertaman pada diri seseorang. Proses pembentukan nilai moralitas dan nilai etika (superego) terjadi sejak dini dimana pada usia 0 sampai 5 tahun menjadi masa penanaman pondasi yang kuat untuk terbentuknya nilai tersebut pada diri seseorang. Penanaman nilai ini akan sangat berperan dalam pembentukan persepsi hati nurani seseorang untuk menginjak pada masa dewasa.

Runtuhnya nilai-nilai moralitas dan etika di sebagian besar kehidupan bangsa tanpa dipungkiri merupakan kegagalan dalam pendidikan di negeri ini yang lebih mengarah pada kuantitas bukan kualitas dari mutu hasil pendidikan yang dikeluarkan lembaga pendidikan terutama pada pendidikan usia dini dan pendidikan dasar. Lembaga pendidikan yang diharapkan menjadi pencipta, pembentuk, dan tempat pelatihan untuk menegakan nilai-nilai moralitas dan etika seiring dengan tugasnya memberikan informasi dalam bidang keilmuan, ikut terperosok oleh tataran birokrasi yang terkadang hanya memikirkan yang penting mereka sekolah tanpa melihat proses yang terjadi didalamnya. Permasalahan runtuhnya nilai moralitas dan nilai etika tidak semuanya menjadi tanggung jawab dunia pendidikan. Dunia pers dan pertelevisian juga harus bertanggung jawab atas runtuhnya nilai-nilai tersebut. Peran pers dan televisi sangat besar juga dalam membentuk nilai-nilai moral dan etika seseorang. Penyebaran informasi yang diberikan terkadang melampaui dari informasi yang diberikan di sekolah. Sehingga perubahan budaya yang terjadi dalam masyarakat sangat besar pula dipengaruhi oleh peran pers dan televisi yang selalu memberikan segala informasi bagi masyarakat. Hal ini tentunya memberikan pandangan baru bagi masyarakat tentang kehidupan yang mereka lihat di televisi sehingga dapat mengakibatkan pergeseran budaya. Pada masa orde baru, dunia pers dan televisi dibelenggu dari kebebasan menyampaikan informasi yang aktual dan akurat kepada masyarakat. Mereka hanya dijadikan alat propaganda bagi masyarakat agar loyal
kepada pemerintah. Nilai moralitas dan nilai etika yang diberikan dalam pers dan televisi waktu itu hanyalah slogan dan basa-basi retorika kekuasaan untuk merangkul masa dan menjatuhkan lawan-lawan politiknya tanpa ada niatan yang murni untuk memberikan pendidikan moral dan etika bagi seluruh rakyatnya.

Sejak tumbangnya koloni orde baru setelah 32 tahun berkuasa memberikan angin segar bagi perubahan sosial dan politik di negeri ini. Perubahan segera digulirkan ke segala sektor termasuk dalam bidang penyiaran dengan dibuatnya undang-undang penyiaran yang baru. Kebebasan yang diberikan pemerintah transisi menjadi tolakan awal dalam membangun dunia penyiaran yang demokratis serta memberikan peluang untuk berkembangnya stasiun televisi yang baru. Bagi masyarakat Indonesia yang masih kuat dengan budaya komunikasi lisan, hadirnya
stasiun-stasiun televisi memberikan nuansa baru dalam memperoleh informasi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Televisi bagi masyarakat tentunya menjadi guru yang setia dalam memberikan berbagai macam informasi yang terdapat didalamnya. Dengan lahirnya beberapa stasiun televisi tentunya harus menjadi babak baru bagi seluruh bangsa ini untuk mendapatkan informasi yang aktual, akurat, menghibur serta yang terpenting dapat mendidik seluruh masyarakat Indonesia menuju peradapan masa depan yang penuh dengan nilai moral dan etika di dalamnya.

Kenyataan yang terjadi saat ini, setiap statiun televisi lebih mementingkan program acara yang sifatnya hiburan dan cendrung mengarah pada kenyataan yang tidak masuk logika. Mereka berupaya mencari pemirsa sebanyak mungkin dengan memanfaatkan nilai ego yang ada di masyarakat kita. Bukan suatu kesalahan bila setiap stasiun televisi ingin memperoleh keuntungan yang besar dengan menjual program tayangannya kepada para sponsor iklan. Tetapi mereka juga harus dituntut untuk dapat memberikan yang terbaik kapada bangsa ini dengan memberikan tayangan program yang memiliki nilai pendidikan agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa terutama perkembangan masyarakat untuk dapat bersaing dalam kehidupan global serta tetap mempertahankan nilai moralitas dan nila etika mereka.

Dapat dilihat bahwa program televisi yang ditayangkan sekarang ini banyak sekali menampilkan masalah kesenjangan hidup yang didramatisir sedeminikan rupa, sehingga menyebabkan pertentangan dalam masyarakat. Sinetron-sinetron yang dihadirkan begitu mengekang kehidupan sebenarnya dengan memberikan perimbangan antara peran buruk yang begitu dominan dibandingkan peran baik, serta jauh dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Ada beberapa sinetron yang ditayangkan sangat jauh dari nilai logika dan terkadang sulit untuk dapat dipertanggungjawabkan. Berapa persen dari sekian banyak sinetron yang ditayangkan dalam televisi dapat memberikan arahan nyata tentang nilai moralitas dan nilai etika. Begitu banyak sinetron yang ditayangkan terlalu menekankan pada nilai kekerasan, kebohongan, kebencian dan kedengkian. Sedikit sekali yang memberikan penekanan pada nilai kebaikan dalam program tersebut, nilai kebaikan seakan diburamkan oleh tampilan keburukan yang begitu dominan.

Acara takl show yang banyak ditayangkan juga seakan mengaburkan makna dan tujuan yang diharapkan. Beberapa acara dengar pendapat malah berbalik menjadi sebuah tontonan untuk mendiskriminasikan individu maupun kelompok tertentu. Perdebatan yang terjadi dalam pembicaran di acara tersebut terkadang memancing ketegangan pemirsa. Dan ini tentunya membuat pemirsa menjadi terpancing emosinya untuk lebih mendukung suatu kelompok, yang seharusnya acara tersebut bertujuan mencari solusi untuk memecahkan masalah yang ada bersama pemirsa. Pemberitaan yang disajikan oleh sebagian besar stasiun televisi juga lebih memberikan penekanan pada nilai kekerasan berupa tindakan kriminal, perbuatan asusila, dan persengketaan serta mengungkit-ngungkit urusan rumah tangga dan privasi orang lain yang terkadang tanpa dilandasi dengan fakta yang akurat (gosip). Sekarang ini acara di televisi yang sangat marak adalah program-program yang mencoba mengajak pemirsa berfantasi dengan nafsu. Seolah program tersebut menggiring pemirsa untuk lebih mengenal dan memahami tentang dunia sex tanpa diimbangi dengan penjelasan akan segi positif dan negatif secara menyeluruh kepada pemirsa. Setiap stasiun televisi saling bersaing untuk meraih pemirsa yang banyak dengan memberikan tayangan yang semakin seronoh.

Dapat dibayangkan bagaimana tidak terjadinya pergeseran budaya pada negeri ini kalau setiap hari yang pemirsa terima berupa informasi-informasi yang penuh dengan pertentangan moralitas dan etika. Bukan menjadi suatu hal yang mustahil, kalau program televisi yang disiaran jauh dari nilai moralitas dan etika ini akan berpengaruh, sehingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat bangsa ini. Kalau masalah ini tidak segera dibenahi bukan tidak mungkin krisis moral di negeri akan akan terus berlanjut dan bahkan nantinya akan semakin
parah. Dapat dilihat sekarang ini, bagaimana penanaman nilai moralitas dan etika menjadi suatu yang langka ditampilkan dalam program televisi. Kenyataan yang terlihat setiap stasiun televisi hanya berlomba-lomba untuk sekedar mencari keuntungan yang besar.

Komitmen bersama antara stasiun-stasiun televisi dengan pemerintah sebagai pengendali kebijakan merupakan solusi yang tepat agar nilai moralitas dan nilai etika tidak punah dalam setiap acara yang disiarkan kepada pemirsa. Setiap stasiun televisi tentunya harus berusaha menciptakan, mengembangkan maupun menyaring programprogram
yang akan ditampilkan. Program yang ditampilkan tentunya harus dapat menanamkan dan menumbuhkan nilai moralitas serta nilai etika dengan merangsang pemirsa agar dapat membuat keputusan yang etis di setiap permasalahan kehidupannya dengan tayangan yang sesuai kehidupan nyata di masyarakat dewasa ini. Program televisi juga harus dapat menciptakan suatu transaksi komunikasi yang demokratis dan mendukung terciptanya kehidupan yang mengandung aspirasi semua pihak untuk menciptakan nilai moralitas dan nilai etika dalam masyarakat.

Sebuah tantangan besar bagi pembuat program acara televisi berupa ketepatan dan keakuratan pemberian makna informasi sesuai dengan konteks yang akan mempengaruhi persepsi pemirsa menjadi sebuah prilaku moralitas dan etika yang dikehendaki masyarakat, karena nilai moralitas dan nilai etika seseorang sangat dipengaruhi oleh pemberian makna dari informasi yang diterimanya. Program acara televisi juga harus mampu menjadi sebuah alat pemberi arah yang memungkinkan dapat dipahami ketika pemirsa nantinya bertindak atau merenungkan sesuatu yang tidak sejalan dengan prinsipnya. Program yang dihasilkan harus dapat menciptakan kesadaran untuk mampu mendekatkan jarak antara program tersebut dengan pemirsa serta dapat menelaah pemikiran pemirsa, motif, sejarah dan kebiasaan hidup dalam lingkungannya. Bagian yang terpenting, program televisi harus dapat meneropong keadaan masa depan dengan menghubungkannya dengan masa lalu sehingga menciptakan sesuatu dibenak pemirsa untuk mengatasi masalah hidupnya dengan tetap mepertimbangkan nilai moralitas dan nilai etika.

Daftar Pustaka

  • Afifi,F.(2003). Melacak Pemikiran Strategik Pemecahan Masalah Di Indonesia. Jakarta : Paramadina.
  • Arif Sadiman. 1996. Media Pendidikan ; Pengertian, Pengembangan Dan Pemamfaatan. Jakarta : PUSTEKOM Dikbud dan Raja Grafindo Persada
  • Bintoro,A.(2002). ”Menumbuhkan Masyarakat Terdidik”. Jurnal Mimbar Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. 21 (4), 45-49.
  • Munir. (2003). ”Pengembangan Teknologi Multimedia Terhadap Motivasi Belajar Anak-anak Prasekolah Dalam Pembelajaran Literasi”. 22 (3), 4-11.
  • Gunawan,A,H.(2003).Intructional Televisi Dan Teletraining Suatu Penghantar Tele Edukasi. Tersedia: http://www.yahoo.com.
  • Heinich, Robert, 1996, Instructional Media and Technologies for Learning, Prentice-Hall, Inc, New Jersey

Sumber: LPMP Banten


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: